

AUG 06, 2026@14:30 WIB | 120 Views

Harga BBM lagi-lagi bikin banyak pemilik mobil garuk kepala. Setiap ada penyesuaian harga, pasti muncul pertanyaan yang sama, "Kalau biasanya isi RON 92, boleh enggak ya sekarang turun ke RON 90 biar lebih hemat?"
Apalagi buat yang mobilnya dipakai kerja setiap hari atau sering diajak perjalanan jauh, selisih beberapa ribu rupiah per liter memang lumayan terasa di kantong.
Saat ini, harga BBM non-subsidi di Indonesia memang masih cukup beragam. Di wilayah DKI Jakarta misalnya, Pertamax (RON 92) dijual sekitar Rp15.950 per liter, Pertamax Green 95 (RON 95) Rp16.600 per liter, dan Pertamax Turbo (RON 98) Rp18.300 per liter.
Sementara itu, Shell Super (RON 92) dibanderol sekitar Rp16.130 per liter, Shell V-Power (RON 95) Rp16.760 per liter, serta Shell V-Power Nitro+ (RON 98) Rp17.090 per liter. BP juga menawarkan BP 92 seharga Rp16.130 per liter dan BP Ultimate (RON 95) Rp16.760 per liter, sedangkan Vivo menjual Revvo 92 sekitar Rp16.130 per liter dan Revvo 95 Rp16.760 per liter.

Kalau dilihat sekilas, memang menggoda buat "turun kelas" supaya biaya isi bensin lebih murah. Hitung-hitungan kasarnya, mobil dengan tangki 40 liter bisa menghemat ratusan ribu rupiah dalam sekali isi penuh jika memilih bensin dengan RON lebih rendah.
Tapi, apakah cara ini benar-benar bikin hemat?
Jawabannya, belum tentu. Soalnya setiap mesin mobil sudah dirancang menggunakan bahan bakar dengan angka oktan atau RON tertentu.
Kalau dipaksa minum bensin yang tidak sesuai kebutuhan mesin, penghematan yang didapat hari ini justru bisa berubah jadi biaya servis yang jauh lebih mahal di kemudian hari.
Apasih RON itu?
RON atau Research Octane Number adalah angka yang menunjukkan kemampuan bensin menahan pembakaran dini akibat tekanan tinggi di dalam ruang bakar.
Semakin tinggi rasio kompresi mesin, semakin tinggi pula angka RON yang dibutuhkan. Tujuannya agar pembakaran terjadi pada waktu yang tepat sesuai pengaturan ECU dan busi.
Kalau RON terlalu rendah, campuran udara dan bensin bisa terbakar lebih cepat sebelum piston mencapai posisi ideal. Kondisi ini dikenal sebagai knocking atau mesin ngelitik.

Efek Pakai Bensin RON Lebih Rendah dari Spek Mesin
1. Mesin Jadi Ngelitik
Ini adalah gejala yang paling umum terjadi. Suara mesin terdengar seperti logam saling berbenturan akibat pembakaran yang tidak normal. Kalau dibiarkan terus, knocking dapat mempercepat keausan bahkan merusak piston dan komponen mesin lainnya.
2. Tenaga Mobil Menurun
Mobil modern sudah dilengkapi knock sensor yang akan mendeteksi gejala knocking. Saat hal itu terjadi, ECU akan memundurkan waktu pengapian agar mesin tetap aman.
Sayangnya, tenaga mesin ikut dikurangi. Akibatnya mobil terasa lebih loyo, akselerasi melambat, dan tarikan saat menyalip atau menanjak menjadi kurang responsif.
3. Konsumsi BBM Malah Lebih Boros
Karena tenaga mesin berkurang, pengemudi biasanya akan menginjak pedal gas lebih dalam agar mobil tetap bertenaga.
Akibatnya konsumsi BBM justru meningkat. Jadi meskipun harga bensin yang dipilih lebih murah, jumlah bensin yang dipakai bisa lebih banyak.
4. Ruang Bakar Lebih Cepat Kotor
Pembakaran yang tidak sempurna menghasilkan kerak karbon yang menempel pada busi, piston, dan ruang bakar. Jika terus menumpuk, performa mesin akan menurun dan biaya perawatan ikut meningkat.
5. Risiko Kerusakan Mesin Lebih Besar
Mobil dengan kompresi tinggi atau mesin turbo sangat sensitif terhadap kualitas bahan bakar.
Jika terus dipaksa menggunakan RON di bawah rekomendasi, risiko kerusakan piston, ring piston, katup, hingga turbo menjadi lebih besar. Biaya perbaikannya tentu jauh lebih mahal dibanding selisih harga saat mengisi BBM.

Kalau Isi RON Lebih Tinggi dari Anjuran, Aman?
Jawabannya aman.
Misalnya mobil direkomendasikan menggunakan RON 92, lalu diisi RON 95 atau RON 98. Mesin tidak akan rusak. Namun pada mobil standar, peningkatan performa biasanya tidak terlalu terasa karena ECU memang sudah disetel sesuai kebutuhan mesin.
Mobil Apa Saja yang Cocok dengan Masing-masing RON?
Berikut gambaran umum mobil yang cocok menggunakan masing-masing jenis RON.
Daftar ini hanya sebagai acuan karena setiap model dan tahun produksi bisa memiliki spesifikasi yang berbeda. Selalu utamakan rekomendasi dari buku manual atau stiker di balik tutup tangki BBM.
| RON | Karakter Mesin | Contoh Mobil |
|---|---|---|
| RON 90 | Rasio kompresi sekitar 9:1–10:1 | Toyota Calya, Daihatsu Sigra, Toyota Agya 1.0 (generasi awal), Daihatsu Ayla 1.0, Honda Brio Satya, Suzuki Karimun Wagon R, Toyota Avanza 1.3 generasi lama, Daihatsu Xenia 1.3 generasi lama, Nissan March 1.2, Mitsubishi Mirage |
| RON 92 | Rasio kompresi sekitar 10:1–11,5:1 | Toyota Yaris, Toyota Vios, Toyota Corolla Cross, Toyota Raize 1.0 Turbo, Toyota Rush terbaru, Honda HR-V, Honda BR-V, Honda WR-V, Honda City Hatchback, Mitsubishi Xforce, Mitsubishi Xpander, Hyundai Creta, Hyundai Stargazer, Suzuki Grand Vitara Hybrid, Mazda2, Mazda CX-3 |
| RON 95 atau lebih | Rasio kompresi tinggi, mesin turbo atau performa tinggi | Honda Civic RS Turbo, Honda Accord Turbo, Toyota GR Yaris, Toyota GR Corolla, Toyota GR Supra, BMW Seri 3, BMW Seri 5, Mercedes-Benz C-Class, Mercedes-Benz E-Class, Audi A4, Audi A5, MINI Cooper S, Volkswagen Golf GTI, Hyundai Elantra N, Lexus NX Turbo |
Catatan: Daftar di atas hanya sebagai gambaran umum. Pastikan selalu mengecek rekomendasi bahan bakar pada buku manual atau stiker di balik tutup tangki bensin karena setiap tipe dan tahun produksi mobil bisa memiliki spesifikasi yang berbeda.
Kalau Sekali Terpaksa Isi RON Lebih Rendah, Langsung Rusak?
Tidak juga.
Kalau hanya sekali karena kondisi darurat atau sulit menemukan SPBU yang menyediakan BBM sesuai rekomendasi, mesin modern umumnya masih bisa beradaptasi melalui knock sensor.
Namun hal tersebut jangan dijadikan kebiasaan. Begitu menemukan BBM dengan RON yang sesuai, sebaiknya segera isi kembali agar mesin kembali bekerja secara optimal.
Jangan Cuma Lihat Harga di SPBU, Lihat Juga Kesehatan Mesin
Memang enggak bisa dipungkiri, harga BBM sekarang bikin banyak orang harus lebih pintar mengatur pengeluaran. Tapi jangan sampai niat menghemat justru berujung bikin mesin mobil cepat rusak.
Ingat, selisih harga beberapa ribu rupiah per liter memang terasa saat isi tangki. Namun kalau karena salah pilih RON mesin jadi ngelitik, tenaga menurun, konsumsi BBM makin boros, sampai harus turun mesin, biaya yang keluar bisa mencapai belasan bahkan puluhan juta rupiah.
Jadi, meski harga BBM sedang bikin dompet menjerit, usahakan tetap isi bensin sesuai spesifikasi yang direkomendasikan pabrikan.
Karena pada akhirnya, pakai RON yang tepat bukan berarti memilih BBM paling mahal, tapi memilih bahan bakar yang memang paling cocok untuk menjaga mesin mobil tetap awet, irit, dan bebas masalah dalam jangka panjang.
[ziz/timBX/berbagaisumber].