

JUL 02, 2026@17:00 WIB | 76 Views
Ambisi raksasa otomotif seperti Ford gantikan peran manusia dengan Artificial Intelligence atau AI sepertinya harus terbentur dinding keras sekali. Karena Ford Motor Company terpaksa rekrut kembali sekitar 300 insinyur veteran mereka. Alasannya sih bikin menohok, Sistem AI mereka ternyata belum bisa menyamai kemampuan dan standar kerja manusia terutama pakar-pakar dalam pengembangan mobil.
Berdasarkan rilis resmi di situs Ford, para insinyur senior tersebut adalah mantan karyawan Ford yang sengaja oleh Ford hadirkan kembali dan diberi kebebasan penuh untuk mencari cacat desain dan potensi masalah pada mobil sebelum kendaraan tersebut masuk ke dalam jalur produksi massal.
"Di divisi Vehicle Engineering, para pemimpin melihat peluang besar untuk membawa keahlian spesifik yang mendalam ke fase desain lebih awal. Ford merekrut sekitar 300 insinyur veteran yang membawa kebijaksanaan berharga dari pengalaman desain selama puluhan tahun," tulis pernyataan resmi raksasa otomotif asal AS tersebut.
Jadi "Auditor Internal" Tanpa Beban Target Harian
Menariknya, 300 insinyur kawakan ini tidak akan dikejar-kejar oleh target jadwal produksi harian yang bikin stres. Mereka diposisikan sebagai "auditor internal" independen. Tugas utama mereka adalah menggelar tinjauan desain wajib setiap pekan guna melacak, memburu, dan mengeliminasi titik-titik potensi kegagalan (failure points) sebelum cetak biru (blueprint) mobil dikirim ke lantai pabrik.
Laporan dari The Verge mengonfirmasi bahwa langkah putar balik ini diambil Ford karena sistem AI yang mereka kembangkan saat ini dinilai belum cukup matang untuk dilepas sendirian.
Charles Poon, Vice President of Vehicle Hardware Engineering Ford, secara blak-blakan mengakui bahwa perusahaan telah melakukan blunder dalam strategi implementasi AI mereka. "Kami sempat keliru berpikir bahwa hanya dengan memperkenalkan AI dan menyesuaikan kebutuhan desain yang ada, hal itu langsung bisa menghasilkan produk berkualitas tinggi," aku Poon jujur.
AI Tidak Dibuang, Justru Mau "Disekolahkan" Lagi
Meski mendatangkan kembali ratusan "suhu" otomotif, bukan berarti Ford kapok dan bakal membuang teknologi AI mereka. Alih-alih menggantikan AI, para insinyur veteran ini justru ditugaskan untuk melatih dan mendongkrak kemampuan sistem kecerdasan buatan tersebut agar lebih pintar di masa depan.
"Di sinilah beberapa insinyur paling berpengalaman kami mengambil peran. Mereka punya jam terbang tinggi untuk memecahkan dan mengidentifikasi masalah sebelum eror tersebut menyusup ke dalam sistem," tambah Poon.
Ford sendiri menegaskan tidak punya niat sama sekali untuk mengerem pemanfaatan teknologi digital. Chief Manufacturing Officer Ford, Bryce Currie, bahkan menyebutkan bahwa perusahaan baru saja menyuntikkan teknologi "AI Vision" ke dalam proses manufaktur mereka.
"Para pemimpin kini menghabiskan lebih banyak waktu di lantai pabrik untuk mendukung, berkolaborasi, dan belajar dari para operator kami," kata Currie. "Kami menerima rata-rata lebih dari delapan ide per proyek dari para operator, dan kami berinvestasi untuk mendukung mereka, salah satunya dengan menambahkan sistem AI Vision untuk membantu mengidentifikasi anomali."
Bayang-Bayang Nasib Divisi Engineering di Australia
Di sisi lain, kabar ini juga membawa sentimen tersendiri bagi industri otomotif di kawasan Asia-Pasifik, khususnya Australia. Seperti diketahui, Ford telah menutup pabrik produksinya di Australia pada 2016 (disusul Holden dan Toyota pada Oktober 2017).
Meski pabriknya tutup, Ford sebenarnya masih tercatat sebagai investor terbesar di industri otomotif Australia. Mereka menggelontorkan dana sekitar 300 juta dolar AS (sekitar Rp4,6 triliun) setiap tahunnya untuk proyek riset dan pengembangan (R&D). Termasuk untuk mendesain basis Ford Ranger yang diproduksi di Thailand.
Namun, masa depan pusat engineering lokal di Australia ini mulai banyak pertanyaan di kalangan . Pernyataan CEO Ford, Jim Farley, awal tahun ini mengisyaratkan bahwa tanpa adanya dukungan atau insentif khusus dari Pemerintah Australia, operasional engineering lokal mereka bisa saja terancam di masa depan.
Apakah kolaborasi antara "kebijaksanaan" insinyur veteran dan efisiensi AI ini bisa jadi jembatan baru ataukah hanya sekedar gimmick semata? Kita tunggu kisah selanjutnya. [Adi/TimBX]