MENU
icon label
image label
blacklogo

Review Backrooms, ketakutan Terbesar di Ruangan Luas

JUN 08, 2026@16:00 WIB | 162 Views

Liminal Spaces adalah Teror Menakutkan

Bagaimana jika kalian masuk ke sebuah ruangan yang tidak memiliki batas dan tidak ada jaminan bisa menemukan jalan keluar? Premis itulah yang menjadi fondasi utama Backrooms, film terbaru garapan Kane Parsons yang mengadaptasi fenomena creepypasta internet legendaris dengan nama yang sama.

Alih-alih menghadirkan horor konvensional yang dipenuhi jumpscare dan monster, Backrooms justru membawa penonton ke pengalaman yang jauh lebih psikologis. Ceritanya mengikuti sejumlah karakter yang terjebak dalam ruang liminal tanpa akhir, termasuk Clark, sosok yang emosinya perlahan terpengaruh oleh lingkungan asing yang terus berubah di sekelilingnya.

Cerita dan Karakter Menjadi Fondasi Utama

Salah satu kejutan terbesar dari Backrooms adalah bagaimana film ini memperlakukan para karakternya. Renate Reinsve dan Chiwetel Ejiofor tidak sekadar hadir sebagai pelengkap cerita, melainkan menjadi bagian penting dari misteri yang dibangun sejak awal hingga akhir film.

Kane Parsons sengaja membangun banyak pertanyaan tanpa selalu memberikan jawaban yang jelas. Hasilnya, penonton terus diajak menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi di dalam Backrooms. Beberapa petunjuk terasa nyata, sementara sebagian lainnya justru membuka ruang interpretasi baru.

Pendekatan tersebut membuat Backrooms lebih mirip teka-teki psikologis dibanding film horor biasa. Bahkan setelah kredit penutup selesai, masih ada banyak kemungkinan teori yang bisa muncul dari setiap keputusan yang diambil para karakter.

Visual yang Menciptakan Rasa Tidak Nyaman

Jika ada satu aspek yang benar-benar menonjol, maka jawabannya adalah visual. Kane Parsons berhasil menerjemahkan konsep liminal space yang selama ini hanya hidup di internet menjadi pengalaman sinematik yang efektif.

Lorong tanpa ujung, ruangan yang terus bertambah, hingga struktur bangunan yang terasa mustahil menciptakan rasa tidak nyaman yang konsisten sepanjang film. Penonton tidak hanya dibuat takut oleh apa yang terlihat, tetapi juga oleh kemungkinan apa yang tersembunyi di balik setiap sudut.

Palet warna kuning pucat yang menjadi identitas Backrooms juga berperan besar dalam membangun atmosfer. Kombinasi pencahayaan yang datar, ruang kosong yang terasa asing, dan arsitektur yang tidak masuk akal membuat film ini terasa seperti mimpi buruk yang tidak kunjung berakhir.

Verdict

Backrooms bukan film horor yang mengandalkan teror instan. Film ini lebih tertarik mengeksplorasi rasa cemas, kesepian, dan ketidakpastian melalui ruang yang seharusnya terlihat biasa. Hasilnya adalah pengalaman yang unik, mengganggu, dan cukup berbeda dibandingkan kebanyakan film horor modern.

Tags :

#
backrooms,
#
kane parson