

MAY 29, 2026@13:00 WIB | 84 Views

Kadang, masalah terbesar dalam perjalanan bukan macet atau kendaraan mogok. Tetapi jika ada penumpang gelap kasat mata. Itulah yang membuat Horor Supernatural ini semakin menyeramkan. Itulah ide utama dari Passenger (2026), sebuah film horor supernatural yang mengubah road trip impian menjadi mimpi buruk penuh teror.
Film ini mengikuti Tyler dan Maddie, pasangan yang punya mimpi sederhana: menjelajah ke mana saja menggunakan van mereka. Perjalanan menuju barat yang awalnya terasa bebas dan menyenangkan perlahan berubah jadi petaka ketika mereka bertemu sosok misterius yang ternyata bukan sekadar “penumpang gelap” biasa.
Sejak saat itu, perjalanan mereka berubah menjadi teror tanpa henti.
Hal paling menarik dari Passenger sebenarnya ada di konsepnya. Film ini punya premis yang kuat: sebuah entitas misterius yang hadir tanpa penjelasan pasti dan meninggalkan jejak kematian yang mengganggu. Ada orang hilang, kematian tidak wajar, dan rasa paranoia yang terus dibangun sepanjang perjalanan.
Babak awal sampai pertengahan film jadi bagian terbaik

Atmosfer mencekam berhasil dibangun dengan sangat baik. Teror terasa dekat, tidak berlebihan, tapi cukup bikin tidak nyaman. Beberapa adegan juga sukses menghadirkan rasa takut yang efektif, terutama saat sosok entitas mulai memperlihatkan kehadirannya. Desain karakter makhluknya sendiri cukup mengganggu, dengan wajah tua penuh ekspresi menyeramkan yang bisa saja terus teringat setelah film selesai.
Namun, Film ini seperti kebingungan mau kemana selesainya. Seperti para petualang di mobil Van. Malah penulisnya ini justru memperlihatkan kalau mereka-lah yang pusing kepala menentukan ending yang pas. Akibatnya, klimaks terasa kurang memuaskan. Bahkan beberapa momen penting, termasuk adegan gereja terbakar, terasa seperti solusi instan yang ini terpaksa harus selesai agar cerita cepat selesai.
Padahal, pola di dua babak awal sudah sangat menjanjikan. Namun, ketika film kembali mengulang formula yang sama di babak ketiga, rasa tegang yang sebelumnya terbangun justru mulai melemah.
Untungnya, akting Jacob Scipio dan Lou Llobell tetap jadi salah satu kekuatan utama film ini. Chemistry keduanya terasa natural sebagai pasangan yang perlahan kehilangan rasa aman di tengah perjalanan. Walau kadang keputusan karakter mereka bikin gregetan, emosi paniknya tetap terasa cukup meyakinkan.
Dari sisi visual, Passenger juga tidak mencoba tampil terlalu berlebihan. Gore hadir secukupnya tanpa harus jadi tontonan penuh darah. Justru suasana jalanan sepi, perjalanan malam, dan rasa terisolasi jadi elemen paling efektif dalam membangun ketakutan. Rasanya seperti horor budget rendah yang dieksekusi cukup rapi tanpa terlihat murahan.
Langsung Saja,

Passenger punya konsep horor yang menarik dengan atmosfer yang berhasil bikin tegang di paruh awal film. Sayangnya, cerita mulai kehilangan arah ketika mendekati akhir. Tetap layak buat pencinta horor supernatural dan jumpscare, tapi jangan berharap penutup yang benar-benar memuaskan. [Adi/TimBX]